Kamis, 01 Oktober 2015

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI


Nama          : Chintya Hermawanti
NPM           : 11512595
Kelas          : 4PA 11

Tugas 1
1.     Pengertian Sistem Informasi
Menurut John F. Nash sistem Informasi adalah kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bermaksud menata jaringan komunikasi yang penting, proses atas transaksi-transaksi tertentu dan rutin, membantu manajemen dan pemakai intern dan ekstern dan menyediakan dasar pengambilan keputusan yang tepat.
Menurut Henry lucas sistem informasi yaitu kegiatan dari prosedur prosedur yang diorganisasikan, bilamana dieksekusi akan menyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan pengendalian di dalam.

2.     Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Sistem Informasi Psikologi adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian.

3.     Contoh Kasus
Contoh nyata dari pengaplikasian sistem informasi psikologi dalam kehidupan adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi). Misalnya terdapat penyajian tes Rorschach online. Psikologi sendiri berbicara tentang manusia. Jika digabungkan, system informasi psikologi mencakup Hardwer, Software, People, Procedurs, Data dan manusia. Hardware dan software sebagai mesin sedangkan prosedure dan manusia sebagai pelaku, dan data berfungsi sebagai jembatan dari keduanya. Sistem informasi bisa dimanfaatkan oleh pelaku psikologi untuk membantu mereka saat penghitungan skor dalam beberapa tes psikologi. 

Tugas 2
1.     Pengertian Arsitektur Komputer
Arsitektur komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu system komputer. Arsitektur komputer ini merupakan rencana cetak-biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya). Dalam hal ini, implementasi perencanaan dari masing–masing bagian akan lebih difokuskan terutama, mengenai bagaimana CPU akan bekerja, dan mengenai cara pengaksesan data dan alamat dari dan ke memori cache,RAM, ROM, cakram keras, dll).
Arsitektur komputer juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen-komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan target biayanya.

2.     Struktur Kognisi Manusia
a.       Struktur
Struktur adalah sifat fundamental bagi setiap sistem yang dalam penggunaannya sering dapat di petukarkan dengan kata-kata. Identifikasi suatu struktur adalah suatu tugas subjektif, karena tergantung pada asumsi kriteria bagi pengenalan bagian-bagiannya, dan hubungan mereka. Karenanya, identifikasi kognitif suatu struktur berorientasi tujuan, dan tergantung pada pengetahuan yang ada.
Menurut Prof. Benny H. Hoed, struktur adalah bangun (teoritis) yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain dalam satu kesatuan. Struktur ada struktur atas, struktur bawah.
b.      Kognisi
      Kognisi adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Istilah kognisi sendiri berasal dari bahasa Latin cognoscere yang artinya mengetahui. selain itu, kognisi diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan untuk memperoleh pengetahuan. Kognisi juga dapat dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencermikan pemikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati.
c.       Struktur Kognisi Manusia
Struktur kognisi manusia merupakan bagian atau komponen yang terstruktur dalam otak manusia yang memberi pengetahuan berdasarkan sistem, skema, adaptasi, asimilasi dan akomodasi yang membentuk suatu kematangan dan pengalaman otak dalam menjalankan kehidupan sosial bagi seorang manusia. Mempunyai struktur yang sangat kompleks.

3.  Keterkaitan antara Struktur Kognisi Manusia dengan Arsitektur Komputer.
Hubungan struktur kognisi manusia dengan arsitektur komputer yaitu adanya kesamaan proses mulai dari input hingga output pada sistem kognisis manusia dengan komputer.
Dalam struktur kognisi terdapat hubungan antara proses mental yang terjadi dalam memecahkan masalah atau berfikir kreatif yang dilakukan berdasarkan landasan dari pengetahuan sebelumnya serta pengalaman yang ditafsirkan oleh sistem syaraf. Sedangkan arsitektur komputer adalah ilmu, seni, dan cara interkoneksi komponen-komponen perangkat keras dalam konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari sebuah sistem komputer untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja serta target.
4.     Kelebihan dan kekurangan Arsitektur komputer dibandingkan dengan Struktur kognitif manusia.
Kelebihannya yaitu memiliki processor berjumlah lebih dari satu, bisa digunakan oleh banyak pengguna (multi user), dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu bersamaan dan menghasilkan ribuan data, dapat melakukan operasi matematika dan logika dengan sangat cepat.
Kekurangannya yaitu komputer tidak memiliki emosi seperti manusia, komputer tidak dapat memahami pola-pola yang kompleks, komputer tidak dapat melakukan generalisasi, komputer tidak dapat membuat kesimpulan.
5.     Contoh kasus
Sebuah contoh perbandingan model kognitif dengan model PDP (terkait pengenalan wajah). Keunggulan model computer adalah bahwa elemen-elemennya saling terhubung, dan parameternya dapat diukur sehingga secara akurat menghasilkan operasi pengenalan wajah yang serupa dengan kemampuan otak manusia mengenali wajah. Model kognitif mendeskripsikan proses ini, sedangkan model computer mensimulasikan prosesnya.
Analisis:
Berdasarkan contoh kasus diatas, bahwa semakin lama computer akan dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai system kerja kognitif manusia. karena pada dasarnya system kerja kognitif manusia dan computer memiliki kesamaan, yaitu adanya input-proses-output. Namun demikian, baik computer maupun kognitif manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing sehingga diharapkan dapat saling melengkapi satu sama lain demi mempermudah pekerjaan manusia

Sumber :



Jumat, 08 Mei 2015

PSIKOTERAPI


Nama   : Chintya Hermawanti
Npm     : 11512595
Kelas   : 3PA11

A.    Pengertian Terapi Kelompok

Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih (Pedoman Rehabilitasi Pasien Mental Rumah Sakit Jiwa di Indonesia dalam Sitohang, 2011).
Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal (Yosep dalam Sitohang, 2011).
Terapi Kelompok adalah bentuk terapi yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal:
1.      Kesadaran dan pengertian diri sendiri.
2.      Memperbaiki hubungan interpersonal.
3.      Perubahan tingkah laku.




B.  Cara Melakukan Terapi Kelompok
1. Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan dari klien mengenai masalahnya  yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok ataupun terapis juga dapat menelaah situasi yang dialami klien. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.


2. Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Terapis dan para anggota terapi (klien) mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Pada tahap ini juga dibahas tempat atau ruangan pelaksanaan terapi kelompok, frekuensi pertemuan, lama pertemuan dan waktu yang dibutuhkan.

3. Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota untuk membentuk suatu kelompok harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Dalam pembentukan kelompok harus mempertimbangkan tipe permasalahan, persamaan tujuan, persamaan jenis kelamin untuk masalah-masalah tertentu dan tingkatan umur 


4. Tahap Pengembangan Kelompok

Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.



 5. Tahap Evaluasi dan Terminasi

Dalam langkah ini terapis perlu melihat sejauh mana keberhasilan terapi kelompok yang telah dijalankan melalui evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.




C.  Manfaat Terapi Kelompok
1. Membentuk sosialisasi.
2. Meningkatkan identitas diri.
3. Menyalurkan emosi secara konstruktif.
4. Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari.
5. Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui
    komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
6. Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti
    kognitif dan afektif
7. Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, keterampilan
    sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan meningkatkan              
    kemampuantentang masalah-masalah kehidupan dan pemecahannya.




D.  Kasus – Kasus yang Diselesaikan Dalam Terapi Kelompok
1.    Kecanduan alcohol, rokok,  dan obat-obatan terlarang
2.    Kecemasan yang berlebihan
3.    Kemalasan bekerja
4.    Konflik antar pegawai
5.    Kenakalan remaja
6.    kekerasan seksual
7.    Perilaku kekerasan pada penderita skizofrenia
8.    Stress dalam menghadapi penyakit
9.    Permasalahan hubungan sosial

E. Contoh Kasus Dalam Terapi Kelompok
Mila adalah Seorang mahasiswa tingkat tiga di salah satu Universitas ternama di kota Makassar. Mila dalam keseharian dikenal sebagai seorang mahasiswa yang ramah oleh teman-temannya. Tidak ada yang salah dalam perilakunya, namun lain halnya bagi teman-teman dekat Mila. Mereka merasa bahwa Mila memiliki kecemasan yang berlebihan, sehingga setiap saat harus ditemani oleh temannya. Terutama dalam hal-hal yang membutuhkan pilihan. Bagi teman-temannya, perilaku Mila yang terlalu bergantung pada orang lain cukup mengganggu, mereka mengkhawatirkan apa yang akan terjadi jika tidak ada mereka disamping Mila. Setelah melakukan wawancara langsung dengan Mila yang dibungkus dalam bentuk curhat-curhatan, Mila mengaku bahwa ia menjadi seperti itu karena Mila yang juga merupakan anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya sewaktu kecil segalanya diuruskan oleh orang tua dan kakak-kakaknya. Mila mengatakan bahwa pernah sekali ia bermain dengan ayahnya, ketika sang ayah tidak melihat Mila yang tengah bersembunyi dibalik tembok dan tiba-tiba mengagetkan ayahnya. Namun, ternyata ayahnya langsung jatuh dan kejang-kejang sambil memegang dadanya, dan setelah dirujuk ke dokter diketahui bahwa ayahnya terkena penyakit jantung. Mila sangat sedih dan ketakutan dan mengaku bahwa saat itulah pertama kalinya ia dimarahi habis-habisan oleh kakak-kakaknya. Pada kasus tersebut dapat ditangani dengan metode penanganan gestal: Terapi kelompok, klien dalam terapi kelompok biasanya merasakan kelegaan dan harapan karena menyadari bahwa masalah mereka tidaklah unik. Terapi kelompok memberi mereka dukungan situasiyang kondusif untuk diskusi yang terus terang mengenai dorongan dan metodekontrak diri. Selain adanya keinginan dari klien untuk melakukan perubahan, dukungan dari luar juga mempengaruhi. Didalam terapi kelompok klien diberikan dukungan dari orang-orang yang ada disekitarnya sehingga dapat membantu terjadinya perubahan perilaku pada klien.




Sumber :
Sihotang, L. (2011). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol. Medan: USU: Tidak diterbitkan.
Slamet, I.S.S & Markam, S. (2007). Pengantar psikologi klinis. Jakarta: Penerbit  Universitas Indonesia (UI-Press).
Tomb, D.A. (2003). Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta: EGC

A.    Pengertian Terapi Kelompok
Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih (Pedoman Rehabilitasi Pasien Mental Rumah Sakit Jiwa di Indonesia dalam Sitohang, 2011).
Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal (Yosep dalam Sitohang, 2011).
Terapi Kelompok adalah bentuk terapi yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal:
1.      Kesadaran dan pengertian diri sendiri.
2.      Memperbaiki hubungan interpersonal.
3.      Perubahan tingkah laku.

B.  Cara Melakukan Terapi Kelompok
1. Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan dari klien mengenai masalahnya  yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok ataupun terapis juga dapat menelaah situasi yang dialami klien. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.

  1. Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Terapis dan para anggota terapi (klien) mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Pada tahap ini juga dibahas tempat atau ruangan pelaksanaan terapi kelompok, frekuensi pertemuan, lama pertemuan dan waktu yang dibutuhkan.

  1. Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota untuk membentuk suatu kelompok harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Dalam pembentukan kelompok harus mempertimbangkan tipe permasalahan, persamaan tujuan, persamaan jenis kelamin untuk masalah-masalah tertentu dan tingkatan umur.
  1. Tahap Pengembangan Kelompok
Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
  1. Tahap Evaluasi dan Terminasi
Dalam langkah ini terapis perlu melihat sejauh mana keberhasilan terapi kelompok yang telah dijalankan melalui evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.

C.  Manfaat Terapi Kelompok
      1. Membentuk sosialisasi.
2. Meningkatkan identitas diri.
3. Menyalurkan emosi secara konstruktif.
4. Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari.
5. Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui
    komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
6. Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti
          kognitif dan afektif
7. Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, keterampilan
sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan meningkatkan kemampuan
tentang masalah-masalah kehidupan dan pemecahannya.

D.  Kasus – Kasus yang Diselesaikan Dalam Terapi Kelompok
1.    Kecanduan alcohol, rokok,  dan obat-obatan terlarang
2.    Kecemasan yang berlebihan
3.    Kemalasan bekerja
4.    Konflik antar pegawai
5.    Kenakalan remaja
6.    kekerasan seksual
7.    Perilaku kekerasan pada penderita skizofrenia
8.    Stress dalam menghadapi penyakit
9.    Permasalahan hubungan sosial

E. Contoh Kasus Dalam Terapi Kelompok
    Mila adalah Seorang mahasiswa tingkat tiga di salah satu Universitas ternama di kota Makassar. Mila dalam keseharian dikenal sebagai seorang mahasiswa yang ramah oleh teman-temannya. Tidak ada yang salah dalam perilakunya, namun lain halnya bagi teman-teman dekat Mila. Mereka merasa bahwa Mila memiliki kecemasan yang berlebihan, sehingga setiap saat harus ditemani oleh temannya. Terutama dalam hal-hal yang membutuhkan pilihan. Bagi teman-temannya, perilaku Mila yang terlalu bergantung pada orang lain cukup mengganggu, mereka mengkhawatirkan apa yang akan terjadi jika tidak ada mereka disamping Mila. Setelah melakukan wawancara langsung dengan Mila yang dibungkus dalam bentuk curhat-curhatan, Mila mengaku bahwa ia menjadi seperti itu karena Mila yang juga merupakan anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya sewaktu kecil segalanya diuruskan oleh orang tua dan kakak-kakaknya. Mila mengatakan bahwa pernah sekali ia bermain dengan ayahnya, ketika sang ayah tidak melihat Mila yang tengah bersembunyi dibalik tembok dan tiba-tiba mengagetkan ayahnya. Namun, ternyata ayahnya langsung jatuh dan kejang-kejang sambil memegang dadanya, dan setelah dirujuk ke dokter diketahui bahwa ayahnya terkena penyakit jantung. Mila sangat sedih dan ketakutan dan mengaku bahwa saat itulah pertama kalinya ia dimarahi habis-habisan oleh kakak-kakaknya. Pada kasus tersebut dapat ditangani dengan metode penanganan gestal: Terapi kelompok, klien dalam terapi kelompok biasanya merasakan kelegaan dan harapan karena menyadari bahwa masalah mereka tidaklah unik. Terapi kelompok memberi mereka dukungan situasiyang kondusif untuk diskusi yang terus terang mengenai dorongan dan metodekontrak diri. Selain adanya keinginan dari klien untuk melakukan perubahan, dukungan dari luar juga mempengaruhi. Didalam terapi kelompok klien diberikan dukungan dari orang-orang yang ada disekitarnya sehingga dapat membantu terjadinya perubahan perilaku pada klien.

Sumber :
Sihotang, L. (2011). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol. Medan: USU: Tidak diterbitkan.
Slamet, I.S.S & Markam, S. (2007). Pengantar psikologi klinis. Jakarta: Penerbit  Universitas Indonesia (UI-Press).
Tomb, D.A. (2003). Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta: EGC


Minggu, 29 Maret 2015

PSIKOTERAPI

Nama   : Chintya Hermawanti
Kelas   : 3PA11
Npm    : 11512595

Psikoterapi

  1. Buatlah ulasan mengenai :
a.    Pendekatan psikodinamik
Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar maslah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. psikoanalisis sebagai teori dari pskoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil. 
Perhatian lebih banyak tertuju pada kecemasan (anxiety) dan mekanisme pertahanan diri (defens mechanism). demikian pula perhatian dari suatu yang ditekan berubah menjadi alat yang menekannya, yakni superego, jadi lebih dari bagaimana dan mengapanya sesuatu dorongan atau perasaan menjadi tidak disadari. "id psychology"  yang telah menjadi pusat perhatian dan pembahasan serta objek untuk diterapi, kemudian berubah menjadi "ego psychology". dari keadaan inilah kemudian muncul istilah psikodinamik dan psikoanalisis psikoterapi. 

b.    Pendekatan psikologi belajar
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan classical conditioning atau associative learning. Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.

c.          Pendekatan Humanistik
Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri .


d.    Pendekatan Kognitif
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam cognitive therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck. Tujuan utama dalam pendekatan cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional


2. Uraikan kasus apa saja yang bisa ditangani dengan pendekatan
      Psikodinamik, Behavioristik, Humanistik, Kognitif
!

a.    Psikodinamik
Seseorang menderita gangguan anxietas menyeluruh (GAD) ditandai oleh perasaan cemas sering kali dengan hal-hal kecil. Ciri utama GAD adalah rasa cemas, orang dengan GAD adalah pencemasan yang kronis. Mungkin mereka mencemaskan secara berlebihan keadaan hidup mereka seperti keuangan kesejahteraan anak-anak dan hubungan sosial mereka. Ciri lain yang terkait adalah; merasa tegang, waswas, atau khawatir, mudah lelah, mempunyai kesulitan berkonsentrasi atau menemukan bahwa pikirannnya menjadi kosong, iribilitas ketegangan otot, dan adanya gangguan tidur. Seperti sulit untuk tidur .

b.    Behavioristik
Zaher yang memiliki fobia pada ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa “ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan”.

c.    Humanistik
Anto yang merasa kesal dengan orang tuanya, karena memaksanya untuk mengambil kuliah jurusan akutansi, padahal andi paling membenci menghitung, karena tekanan orang tuanya andi terpaksa harus masuk kulian jurusan akutansi
  

d.    Kognitif
Naufal gagal dalam mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi negeri , karena hal tersebut naufal jadi memiliki keyakinan irasional di dalam dirinya “saya gagal tes” Berarti saya sebagai orang yang mengalami kegagalan total”


  1. Berikan pandangan mengapa kasus tersebut bisa ditangani oleh pendekatan :

a.    Psikodinamik
Karena memandang gangguan anxietas menyeluruh berakar dari konflik konflik yang ditekan sebagian besar psikodinamik bekerja untuk membantu klien untuk menghadapi sumber-sumber konflik yang sebenarnya. Penanganannya hampir sama dengan penanganan fobia. Satu studi tanpa control menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada konflik interpersonal dalam kehidupan masa lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini .


b.    Behavioristik
Kasus tersebut dapat menggunakan pendekatan behavioristik karena pendekatan ini lebih menekankan terhadap proses belajar. Melalui proses belajar ini klien dapat mengatasi rasa takutnya step by step. Mulai dari terapis menunjukkan gambar objek yang klien takuti dari kejauhan, hingga objek tersebut berada di depan klien.

c.    Humanistik
Karena dalam pendekatan humanistik, membantu klien untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberikan jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.

d.    Kognitif
Dengan pendekatan kognitif, kasus tersebut bisa diatasi dengan cara merubah pola pikir klien. Karena masalah tersebut ditimbulkan dari pikiran yang salah. Dengan  menggunakan pendekatan kognitif, terapis membimbing klien agar berpikir lebih realistik dan lebih rasional.

Sumber :
Davies, T, Craig, TKJ. (2009). ABC kesehatan mental. Jakarta: EGC
Gunarsa Singgih. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulya
Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
     


Template by:

Free Blog Templates