Jumat, 08 Mei 2015

PSIKOTERAPI


Nama   : Chintya Hermawanti
Npm     : 11512595
Kelas   : 3PA11

A.    Pengertian Terapi Kelompok

Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih (Pedoman Rehabilitasi Pasien Mental Rumah Sakit Jiwa di Indonesia dalam Sitohang, 2011).
Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal (Yosep dalam Sitohang, 2011).
Terapi Kelompok adalah bentuk terapi yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal:
1.      Kesadaran dan pengertian diri sendiri.
2.      Memperbaiki hubungan interpersonal.
3.      Perubahan tingkah laku.




B.  Cara Melakukan Terapi Kelompok
1. Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan dari klien mengenai masalahnya  yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok ataupun terapis juga dapat menelaah situasi yang dialami klien. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.


2. Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Terapis dan para anggota terapi (klien) mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Pada tahap ini juga dibahas tempat atau ruangan pelaksanaan terapi kelompok, frekuensi pertemuan, lama pertemuan dan waktu yang dibutuhkan.

3. Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota untuk membentuk suatu kelompok harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Dalam pembentukan kelompok harus mempertimbangkan tipe permasalahan, persamaan tujuan, persamaan jenis kelamin untuk masalah-masalah tertentu dan tingkatan umur 


4. Tahap Pengembangan Kelompok

Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.



 5. Tahap Evaluasi dan Terminasi

Dalam langkah ini terapis perlu melihat sejauh mana keberhasilan terapi kelompok yang telah dijalankan melalui evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.




C.  Manfaat Terapi Kelompok
1. Membentuk sosialisasi.
2. Meningkatkan identitas diri.
3. Menyalurkan emosi secara konstruktif.
4. Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari.
5. Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui
    komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
6. Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti
    kognitif dan afektif
7. Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, keterampilan
    sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan meningkatkan              
    kemampuantentang masalah-masalah kehidupan dan pemecahannya.




D.  Kasus – Kasus yang Diselesaikan Dalam Terapi Kelompok
1.    Kecanduan alcohol, rokok,  dan obat-obatan terlarang
2.    Kecemasan yang berlebihan
3.    Kemalasan bekerja
4.    Konflik antar pegawai
5.    Kenakalan remaja
6.    kekerasan seksual
7.    Perilaku kekerasan pada penderita skizofrenia
8.    Stress dalam menghadapi penyakit
9.    Permasalahan hubungan sosial

E. Contoh Kasus Dalam Terapi Kelompok
Mila adalah Seorang mahasiswa tingkat tiga di salah satu Universitas ternama di kota Makassar. Mila dalam keseharian dikenal sebagai seorang mahasiswa yang ramah oleh teman-temannya. Tidak ada yang salah dalam perilakunya, namun lain halnya bagi teman-teman dekat Mila. Mereka merasa bahwa Mila memiliki kecemasan yang berlebihan, sehingga setiap saat harus ditemani oleh temannya. Terutama dalam hal-hal yang membutuhkan pilihan. Bagi teman-temannya, perilaku Mila yang terlalu bergantung pada orang lain cukup mengganggu, mereka mengkhawatirkan apa yang akan terjadi jika tidak ada mereka disamping Mila. Setelah melakukan wawancara langsung dengan Mila yang dibungkus dalam bentuk curhat-curhatan, Mila mengaku bahwa ia menjadi seperti itu karena Mila yang juga merupakan anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya sewaktu kecil segalanya diuruskan oleh orang tua dan kakak-kakaknya. Mila mengatakan bahwa pernah sekali ia bermain dengan ayahnya, ketika sang ayah tidak melihat Mila yang tengah bersembunyi dibalik tembok dan tiba-tiba mengagetkan ayahnya. Namun, ternyata ayahnya langsung jatuh dan kejang-kejang sambil memegang dadanya, dan setelah dirujuk ke dokter diketahui bahwa ayahnya terkena penyakit jantung. Mila sangat sedih dan ketakutan dan mengaku bahwa saat itulah pertama kalinya ia dimarahi habis-habisan oleh kakak-kakaknya. Pada kasus tersebut dapat ditangani dengan metode penanganan gestal: Terapi kelompok, klien dalam terapi kelompok biasanya merasakan kelegaan dan harapan karena menyadari bahwa masalah mereka tidaklah unik. Terapi kelompok memberi mereka dukungan situasiyang kondusif untuk diskusi yang terus terang mengenai dorongan dan metodekontrak diri. Selain adanya keinginan dari klien untuk melakukan perubahan, dukungan dari luar juga mempengaruhi. Didalam terapi kelompok klien diberikan dukungan dari orang-orang yang ada disekitarnya sehingga dapat membantu terjadinya perubahan perilaku pada klien.




Sumber :
Sihotang, L. (2011). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol. Medan: USU: Tidak diterbitkan.
Slamet, I.S.S & Markam, S. (2007). Pengantar psikologi klinis. Jakarta: Penerbit  Universitas Indonesia (UI-Press).
Tomb, D.A. (2003). Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta: EGC

A.    Pengertian Terapi Kelompok
Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih (Pedoman Rehabilitasi Pasien Mental Rumah Sakit Jiwa di Indonesia dalam Sitohang, 2011).
Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal (Yosep dalam Sitohang, 2011).
Terapi Kelompok adalah bentuk terapi yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal:
1.      Kesadaran dan pengertian diri sendiri.
2.      Memperbaiki hubungan interpersonal.
3.      Perubahan tingkah laku.

B.  Cara Melakukan Terapi Kelompok
1. Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan dari klien mengenai masalahnya  yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok ataupun terapis juga dapat menelaah situasi yang dialami klien. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.

  1. Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Terapis dan para anggota terapi (klien) mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Pada tahap ini juga dibahas tempat atau ruangan pelaksanaan terapi kelompok, frekuensi pertemuan, lama pertemuan dan waktu yang dibutuhkan.

  1. Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota untuk membentuk suatu kelompok harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Dalam pembentukan kelompok harus mempertimbangkan tipe permasalahan, persamaan tujuan, persamaan jenis kelamin untuk masalah-masalah tertentu dan tingkatan umur.
  1. Tahap Pengembangan Kelompok
Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
  1. Tahap Evaluasi dan Terminasi
Dalam langkah ini terapis perlu melihat sejauh mana keberhasilan terapi kelompok yang telah dijalankan melalui evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.

C.  Manfaat Terapi Kelompok
      1. Membentuk sosialisasi.
2. Meningkatkan identitas diri.
3. Menyalurkan emosi secara konstruktif.
4. Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari.
5. Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui
    komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
6. Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti
          kognitif dan afektif
7. Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, keterampilan
sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan meningkatkan kemampuan
tentang masalah-masalah kehidupan dan pemecahannya.

D.  Kasus – Kasus yang Diselesaikan Dalam Terapi Kelompok
1.    Kecanduan alcohol, rokok,  dan obat-obatan terlarang
2.    Kecemasan yang berlebihan
3.    Kemalasan bekerja
4.    Konflik antar pegawai
5.    Kenakalan remaja
6.    kekerasan seksual
7.    Perilaku kekerasan pada penderita skizofrenia
8.    Stress dalam menghadapi penyakit
9.    Permasalahan hubungan sosial

E. Contoh Kasus Dalam Terapi Kelompok
    Mila adalah Seorang mahasiswa tingkat tiga di salah satu Universitas ternama di kota Makassar. Mila dalam keseharian dikenal sebagai seorang mahasiswa yang ramah oleh teman-temannya. Tidak ada yang salah dalam perilakunya, namun lain halnya bagi teman-teman dekat Mila. Mereka merasa bahwa Mila memiliki kecemasan yang berlebihan, sehingga setiap saat harus ditemani oleh temannya. Terutama dalam hal-hal yang membutuhkan pilihan. Bagi teman-temannya, perilaku Mila yang terlalu bergantung pada orang lain cukup mengganggu, mereka mengkhawatirkan apa yang akan terjadi jika tidak ada mereka disamping Mila. Setelah melakukan wawancara langsung dengan Mila yang dibungkus dalam bentuk curhat-curhatan, Mila mengaku bahwa ia menjadi seperti itu karena Mila yang juga merupakan anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya sewaktu kecil segalanya diuruskan oleh orang tua dan kakak-kakaknya. Mila mengatakan bahwa pernah sekali ia bermain dengan ayahnya, ketika sang ayah tidak melihat Mila yang tengah bersembunyi dibalik tembok dan tiba-tiba mengagetkan ayahnya. Namun, ternyata ayahnya langsung jatuh dan kejang-kejang sambil memegang dadanya, dan setelah dirujuk ke dokter diketahui bahwa ayahnya terkena penyakit jantung. Mila sangat sedih dan ketakutan dan mengaku bahwa saat itulah pertama kalinya ia dimarahi habis-habisan oleh kakak-kakaknya. Pada kasus tersebut dapat ditangani dengan metode penanganan gestal: Terapi kelompok, klien dalam terapi kelompok biasanya merasakan kelegaan dan harapan karena menyadari bahwa masalah mereka tidaklah unik. Terapi kelompok memberi mereka dukungan situasiyang kondusif untuk diskusi yang terus terang mengenai dorongan dan metodekontrak diri. Selain adanya keinginan dari klien untuk melakukan perubahan, dukungan dari luar juga mempengaruhi. Didalam terapi kelompok klien diberikan dukungan dari orang-orang yang ada disekitarnya sehingga dapat membantu terjadinya perubahan perilaku pada klien.

Sumber :
Sihotang, L. (2011). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol. Medan: USU: Tidak diterbitkan.
Slamet, I.S.S & Markam, S. (2007). Pengantar psikologi klinis. Jakarta: Penerbit  Universitas Indonesia (UI-Press).
Tomb, D.A. (2003). Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta: EGC


Minggu, 29 Maret 2015

PSIKOTERAPI

Nama   : Chintya Hermawanti
Kelas   : 3PA11
Npm    : 11512595

Psikoterapi

  1. Buatlah ulasan mengenai :
a.    Pendekatan psikodinamik
Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar maslah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. psikoanalisis sebagai teori dari pskoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil. 
Perhatian lebih banyak tertuju pada kecemasan (anxiety) dan mekanisme pertahanan diri (defens mechanism). demikian pula perhatian dari suatu yang ditekan berubah menjadi alat yang menekannya, yakni superego, jadi lebih dari bagaimana dan mengapanya sesuatu dorongan atau perasaan menjadi tidak disadari. "id psychology"  yang telah menjadi pusat perhatian dan pembahasan serta objek untuk diterapi, kemudian berubah menjadi "ego psychology". dari keadaan inilah kemudian muncul istilah psikodinamik dan psikoanalisis psikoterapi. 

b.    Pendekatan psikologi belajar
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan classical conditioning atau associative learning. Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.

c.          Pendekatan Humanistik
Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri .


d.    Pendekatan Kognitif
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam cognitive therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck. Tujuan utama dalam pendekatan cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional


2. Uraikan kasus apa saja yang bisa ditangani dengan pendekatan
      Psikodinamik, Behavioristik, Humanistik, Kognitif
!

a.    Psikodinamik
Seseorang menderita gangguan anxietas menyeluruh (GAD) ditandai oleh perasaan cemas sering kali dengan hal-hal kecil. Ciri utama GAD adalah rasa cemas, orang dengan GAD adalah pencemasan yang kronis. Mungkin mereka mencemaskan secara berlebihan keadaan hidup mereka seperti keuangan kesejahteraan anak-anak dan hubungan sosial mereka. Ciri lain yang terkait adalah; merasa tegang, waswas, atau khawatir, mudah lelah, mempunyai kesulitan berkonsentrasi atau menemukan bahwa pikirannnya menjadi kosong, iribilitas ketegangan otot, dan adanya gangguan tidur. Seperti sulit untuk tidur .

b.    Behavioristik
Zaher yang memiliki fobia pada ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa “ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan”.

c.    Humanistik
Anto yang merasa kesal dengan orang tuanya, karena memaksanya untuk mengambil kuliah jurusan akutansi, padahal andi paling membenci menghitung, karena tekanan orang tuanya andi terpaksa harus masuk kulian jurusan akutansi
  

d.    Kognitif
Naufal gagal dalam mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi negeri , karena hal tersebut naufal jadi memiliki keyakinan irasional di dalam dirinya “saya gagal tes” Berarti saya sebagai orang yang mengalami kegagalan total”


  1. Berikan pandangan mengapa kasus tersebut bisa ditangani oleh pendekatan :

a.    Psikodinamik
Karena memandang gangguan anxietas menyeluruh berakar dari konflik konflik yang ditekan sebagian besar psikodinamik bekerja untuk membantu klien untuk menghadapi sumber-sumber konflik yang sebenarnya. Penanganannya hampir sama dengan penanganan fobia. Satu studi tanpa control menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada konflik interpersonal dalam kehidupan masa lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini .


b.    Behavioristik
Kasus tersebut dapat menggunakan pendekatan behavioristik karena pendekatan ini lebih menekankan terhadap proses belajar. Melalui proses belajar ini klien dapat mengatasi rasa takutnya step by step. Mulai dari terapis menunjukkan gambar objek yang klien takuti dari kejauhan, hingga objek tersebut berada di depan klien.

c.    Humanistik
Karena dalam pendekatan humanistik, membantu klien untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberikan jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.

d.    Kognitif
Dengan pendekatan kognitif, kasus tersebut bisa diatasi dengan cara merubah pola pikir klien. Karena masalah tersebut ditimbulkan dari pikiran yang salah. Dengan  menggunakan pendekatan kognitif, terapis membimbing klien agar berpikir lebih realistik dan lebih rasional.

Sumber :
Davies, T, Craig, TKJ. (2009). ABC kesehatan mental. Jakarta: EGC
Gunarsa Singgih. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulya
Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
     


Selasa, 27 Januari 2015

Tugas Softskill Psikologi Manajemen

Nama : Chintya Hermawanti
NPM: 11512595
Kelas: 3PA 11

1. Konflik dalam mengembangkan manajemen di perusahaan !
Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan. Bahkan sepanjang kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan konflik. Demikian halnya dengan kehidupan organisasi. Anggota organisasi senantiasa dihadapkan pada konflik. Perubahan atau inovasi baru sangat rentan menimbulkan konflik (destruktif), apalagi jika tidak disertai pemahaman yang memadai terhadap ide-ide yang berkembang. Manajemen konflik sangat berpengaruh bagi anggota organisasi. Pemimpin organisasi dituntut menguasai manajemen konflik agar konflik yang muncul dapat berdampak positif untuk meningkatkan mutu organisasi. Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. 

Contoh kasus :
            Pada perusahaan “X” telah mengalami konflik semenjak diberlakukannya
 manajemen baru pada tahun 2000. Pemilik perusahaan telah melibatkan pihak lain untuk melakukan kontrol korektif terhadap kinerja buruh. Di samping itu terdapat penyebab lain yang menjadikan konflik semakin memanas ialah kebijakan upah buruh yang diberikan memiliki nominal yang relatif kecil bagi buruh. Minimnya upah yang diterima disebabkan oleh minimnya kuantitas pekerjaan dan harga untuk setiap pekerjaan yang diberikan oleh buruh, sehingga buruh tidak hanya menerima pekerjaan yang sedikit tetapi juga menerima harga dari pekerjaan yang relatif murah. Konflik terlihat lebih konkrit yang ditandai dengan aksi buruh melakukan demontrasi di depan perusahaan pada tanggal 13 Februari 2013. Demontrasi yang dilakukan sebagai bentuk  perlawanan buruh terhadap perilaku perusahaan yang dianggap merugikan buruh. Perilaku yang dilakukan oleh perusahaan ditandai dengan adanya kontrol yang dilakukan oleh pemilik  perusahaan maupun manajemen terhadap buruh .

Penyelesaian kasus : Pada kasus seperti ini dapat diselesaikan dengan adanya perundingan antara pihak perusahaan dengan para buruh secara damai untuk bersama-sama mencari jalan keluar agar tidak dapat merugikan perusahaan dan para buruh sekaligus. Didalam kasus ini perusahaan juga seharusnya mensejahterakan para buruhnya misalnya dengan mendengarkan keluhan keluhan yang di alami oleh buruhnya dalam bekerja, agar buruhnya dapat bekerja dengan efektif dan dapat memajukan kinerja karyawannya dan kualitas barang-barang yang di produksinya dan juga perusahaan pun tidak mengalami kerugian. 

2.Peranan kepemimpinan untuk mengatasi konflik !

Pemimpin adalah orang pertama yang ada dalam sebuah organisasi atau perusahaan seorang pemimpin adalah figur utama atau sebagai orang yang dihormati dan diteladani oleh setiap individu yang dibawah pimpinannya sehingga dapat memepengaruhi perilaku individu tersebut. Sebagai seorang pemimpin tugasnya bukan hanya memimpin karyawannya tetapi juga memberikan arahan dan petunjuk kepada karyawannya serta mengarahkan karyawannya untuk bekerja sesuai target yang ditetapkan perusahaan namun tetap menanamkan kebersamaan dalam setiap pekerjaan untuk menjaga keutuhan suatu tim.

Contoh kasus :
Kasus konflik kepentingan antara individu(pimpinan suatu perusahaan) dengan kelompok(karyawan) di perusahaan X, pimpinan perusahaan menyalahgunakan kekuasaan untuk melakukan tindak korupsi, yaitu penggunaan asset perusahaan untuk kepentingan pribadi si petinggi perusahaan. Dengan adanya tindak korupsi tersebut  perusahaan mengalami kerugian dan bahkan terancam bangkrut. Untuk menghindari kerugian tersebut perusahaan mengambil kebijakan dengan mengurangi/mem-PHK karyawan-karyawannya ataupun menunda pembayaran gaji mereka. Hal ini tentu saja memicu adanya konflik antara karyawan dan pihak perusahaan, karyawan-karyawan tersebut akan melakukan mogok kerja, atau berdemonstrasi menuntut hak & kesejahteraan mereka.

Penyelesaian kasus: Seorang pemimpin haruslah orang yang mempunyai komitmen mencegah diri dari korupsi secara internal, dan menunjukkan sikap anti terhadap korupsi, serta melakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya korupsi di dalam masyarakat Dalam kasus ini pemimpin perusahaan yang melakukan tindak korupsi harus dilaporkan kepada pihak yang berwajib agar diberikan hukuman atas korupsi yang dilakukannya. Dan untuk para karyawannya yang melakukan demonstran diberikan kebijakan pada perusahaan agar diberikannya hak mereka.

3. Praktek dehumanisasi yang biasa muncul dalam praktek manajemen !

Dehumanisasi adalah tindakan kurang manuasiawi, bentuk yang mudah dikenali adalah tindakan kasar dank eras kepada pekerja. Selain masalah tindakan kasar dank eras, masih banyak tindakan lainnya yang terjadi didalam lingkungan social-psikologis didalam lingkungan kerja, tindakan itu adalah prejudis yaitu suatu respon emosi yang negative terhadap beberapa orang tertentu berdasarkan persepsi tertentu, maksudnya persepsi adalah penilaian yang negative; Diskriminasi yaitu penerapan tindakan kepada seseorang yang sifatnya tidak adil; Agresi yaitu tindakan yang muncul secara disengaja dan tidak disengaja untuk menyerang orang lain.

 Contoh kasus :

1). Kasus pabrik panci adalah kasus perbudakan yang terjadi di negeri sendiri, perbudakan adalah peristiwa kerja paksa yang dilakukan  ratusan tahun lalu, namun di jaman modern ini masih terdapat peristiwa pebudakan di negeri sendiri, buruh panci di Tangerang Banten dipaksa bekerja 16 jam per hari tanpa upah sepeser pun. jangankan gaji para buruh bahkan tidak mendapatkan makan minum dan tempat tidur yang layak. perbudakan di jaman modern ini haruslah menjadi pembelajaran bagi para pemerintah supaya para buruh mendapat jaminan keselamatan kerja, dan pelaku praktek perbudakan haruslah mendapat sanksi dan tegas hukuman yang tegas. Pabrik panci sudah termasuk pelanggaran HAM karena yang terjadi di dalam peristiwa tersebut adalah penyalahgunaan wewenang yang dilakukan atasan tehadap bawahan, dan dari peristiwa ini seharusnya ada perlindungan untuk tenaga kerja diluar sana. Pasal : hanya di kenakan pasal 333KUHP tentang perampasan kemerdekaan dan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.

2). Pihak berwenang China menutup sebuah pabrik yang telah memperbudak 11 orang pekerja yang memiliki cacat mental selama bertahun-tahun. Ke-11 orang itu bekerja dengan jam kerja yang panjang, mengalami pemukulan secara reguler, dan diberi makanan yang layak untuk binatang. Walaupun jam kerja mereka panjang, namun tidak seorang pun dari mereka diberikan upah yang sesuai dengan kerja kerasnya.
.
Penyelesaian kasus: Berdasarkan kasus diatas dapat dilihat bahwa masih banyak tenaga kerja mengalami praktek dehumanisasi, dan tidak memperdulikan hak para pekerja selain itu hal tersebut juga merugikan keluarga korban. Praktek dehumanisasi yang dilakukan perusahaan tersebut dapat menimbulkan pelanggaran HAM karena sudah menyalah gunakan hak dan wewenang dari pekerja. Perusahaan kurang memberikan waktu yang panjang bagi para pekerja untuk berekspresi diluar kehidupan kerjanya.


Sumber :



Minggu, 09 November 2014

Psikologi Manajemen Tugas 2



TEORI MOTIVASI


Motivasi (Motivation), Kebutuhan (Need), Dorongan (Drive) : keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong  keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.

Motivasi adalah :
a.         Dorongan yang timbul pada atau di dalam diri seseorang untuk menggerakkan dan mengarahkan perilaku.
b.        Sering digunakan untuk memahami perilaku
c.         Motivasi merupakan dugaan, yang hasilnya akurat jika informasi cukup banyak tersedia

Kemampuan manajer dalam memotivasi, mempengaruhi, mengarahkan dan berkomunikasi dengan bawahan sangat menentukan efektifitas manajer.

Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan dan memelihara perilaku manusia. Namun juga merupakan subyek yang  membingungkan karena motif tidak dapat dilihat atau diukur secara langsung namun harus disimpulkan dari perilaku orang yang tampak.

Faktor yang mempengaruhi prestasi seseorang adalah  motivasi, kemampuan individu dan pemahaman tentang perilaku yang dilakukan untuk mencapai prestasi yang tinggi (persepsi peranan). Ketiganya sangat berhubungan .


a.      Hiraki Kebutuhan Maslow ( dari Abraham Maslow)

Hipotesinya adalah didalam semua manusia adalah jenjang kebutuhan
1.      Fisiologis, kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal dan sembuh dari rasa sakit
2.      Keamanan dan keselamatan, kebutuhan untuk mendapatkan keamanan dan keselamatan terhadap kerugian fisik dan emosional atau dari kejadian dan lingkungan yang mengancam.
3.      Rasa memiliki, sosial dan kasih sayang, kebutuhan atas persahabatan, berkelompok, interaksi dan kasih sayang.
4.      Perhargaan, Kebutuhan atas harga diri dan penghargaan dari lingkunagn internal maupun eksternal
5.      Aktualisasi diri, adalah kebutuhan untuk memenuhi diri sendiri memalui memaksimumkan  kemampuan, keahlian dan potensi

 Maslow membagi kebutuhan  menjadi
a.       kebutuhan order rendah : untuk kebutuhan yang dipenuhi secara eksternal (fisiologis serta keamanan dan keselamatan)
b.      Kebutuhan order tinggi : kebutuhan yang terpenuhi secara internal  dari dalam diri sendiri (kebutuhan sosial, penghargaan dan akutailisasi diri)

Teori Maslow ini beranggapan bahwa orang akan memuaskan kebutuhan yang mendasar terlebih dahulu sebelum mengarahkan perilaku dalam memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.
Sehingga seorang manajer yang ingin memotivasi karyawan harus mengetahui berada dimana kebutuhan yang sudah terpuaskan. Karena kebutuhan yang sudah terpuaskan akan berhenti memotivasi seseorang.

Tambahan berkaitan dengan perbedaan kebutuhan invidudu manajer menghadapi masalah dimana kebutuhan , gaya kerja, etika kerja berbeda –beda antar budaya.

b.      Teori X Dan Teori Y

Douglas McGregor mengemukakan dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia , secara dasar negatif : TEORI X dan  yang pada dasarnya positif : TEORI Y.
Menurut Teori X :
1.      Karyawan tidak menyukai kerja dan bilamana dimungkinkan akan mencoba menghindari
2.      Karena karyawan tidak menyukai kerja mereka harus dipaksa, diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
3.      Karyawan akan menghindari tanggung jawab dan mencarai pengarahan formal bilamana dimungkinkan
4.      Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semau faktor lain yang dikaitkan dengan kerja dan memperagakan ambisinya sedikit saja.

Menurut Teori Y:
1.        Karyawan dapat memandang kerja sama wajarnya dengan istirahat atau bermain,
2.        Orang-orang akan akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka janji terlibat pada sasaran-sasaran
3.        Rata-rata orang dapat belajar untuk menerima baik, bakan mengusahakan dan tanggung jawab
4.        Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif tersebar luas dalam populasi dan tidak hanya milik mereka yang ada dalam posisi manajemen.




c. Teori Motivasi – Pemeliharaan Dari Herzberg

Faktor-faktor penyebab kepuasan kerja mempunyai pengaruh pendorong bagi prestasi dan semangat kerja, sedang factor penyebab ketidak puasan  kerja mempunyai pengaruh negatif.
Motivators mempunyai pengaruh meningkatkan prestasi atau kepuasan kerja.
Faktor pemelihara mencegah merosotnya semangat atau efisiensi. Perbaikan pada factor pemelihara akan mengurangi atau menghilangkan ketidak puasan kerja,

Faktor Pemuas dan Pemeliharaan Dalam Kerja

Faktor Pemuas
Faktor Pemelihara

Prestasi
Kebijakan dan administrasi perusahaan
Penghargaan
Kualitas pengendalian teknik
Pekerjaan kreatif dan menantang
Kondisi kerja
Tanggung jawab
Hubungan kerja
Kemajuan dan penjngkatan
Status pekerjaan

Keamanan kerja

Kehidupanpribadi

Penggajian




PRILAKU KEPEMIMPINAN
Menurut Duncan, dalam kepemimpinan ada beberapa prilaku yang kita kenal, namun secara umum dibagi tiga yaitu :

1. Otokratis
 Gaya kepemimpinan Otokratis pada dasarnya adalah gaya kepemimpinan dimana pemimpin banyak mempengaruhi atau menentukan perilaku bawahannya. Dalam gaya ini pemimpin banyak memperhatikan pencapaian tujuan, oleh karena ini gaya ini lebih banyak menentukan apa yang harus dicapai dan bagaimana mencapainya.
Gaya ini biasanya digunakan oleh Pemimpin yang memiliki status yang tinggi, seorang yang berkuasa dan memiliki kemampuan untuk membuat keputusan.
 Tipe pemimpin otokratis :
Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak.

Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut :
a.       Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi
b.      Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
c.       Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata
d.      Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar.
e.       Selalu bergantung pada kekuasaan formal
f.       Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan (Approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.
Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe mimpinan otokratis tersebut di atas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.

2. Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya yang lebih banyak menekankan partispasi bawahan atau orang yang dipimpinnya dalam menentukan suatu keputusan. Para bawahan diberikan kesempatan untuk menentukan apa yang akan dicapai dan bagaimana mencapainya. Gaya kepemimpinan in berasumsi bahwa pikiran pendapat orang banyak jauh lebih baik daripada pendapat diri sendiri, selain itu akan berdampak pada tanggungjawab pelaksanaannya.
 Tipe Kepemimpinan Demokratis ;
Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.
Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:

a.       Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
b.       Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
c.       Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
d.      Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
e.       Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
f.       Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
g.      Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Dari sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.

3. Permisif

Pemimpin dengan gaya kepemimpinan permisif akan selalu berkeinginan untuk membuat setiap orang yang berada dalam kelok puas. Gaya ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka dengan demikian organisasi akan berfungsi. Pemimpin yang permisif menginginkn agar setiao orang merasa senang dalam organisasi. Gaya kepemimpinan seperti ini akan mengurangi turnover karyawan.

. Tipe pemimpin permisif :
                                              
Pemimpin yang memberikan kebebasan, tidak konsisten, sehingga bawahan tidak mempunyai pegangan, cirinya adalah:
a.       tidak ada pegangan yang kuat dan kepercayaan rendah pada diri sendiri
b.      mengiyakan semua saran
c.       lambatdalam membuat keputusan
d.      banyak mengambil muka kepada bawahan
e.       ramah dan tidak menyakiti bawahan

Template by:

Free Blog Templates